PENGALAMAN PEMAKAIAN SKINCARE DARI KLINIK KECANTIKAN (KRIM DOKTER)
Jika mendengar istilah Skincare rasanya sudah tidak asing lagi di telinga, apalagi bagi kaum hawa kalangan 80’s, 90’s & anak-anak Milenials saat ini. Pembahasan yang akan penulis angkat adalah Skincare untuk wajah, based on story dari penulis sendiri. Skincare sudah mulai bermunculan pada tahun 2017 hingga saat ini, skincare sangat beragam dan bervariatif, sehingga sebagai konsumen kita dapat leluasa memilih apa yang ingin kita pakai. Skincare dari Local Brand, High End maupun klinik kecantikan berlomba-lomba dalam membuat berbagai macam skincare. Namun yang penulis rasakan sebelum tahun 2017, skincare belum banyak seperti sekarang dan belum banyak terekspos seperti saai ini. Awal perjalanan penulis mengenal dan menggunakan Skincare kira-kira pada tahun 2012, itupun penulis memilih untuk menggunakan skincare dari klinik kecantikan, yang berarti skincare tersebut sudah dibuat dengan standar dan racikan dokter dari klinik tersebut, yang biasanya klinik-klinik tersebut memiliki instalasi farmasi atau pabrik sendiri, yang berarti sudah aman dan teruji.
Karena minimnya pengetahuan pada saat itu dan kurangnya informasi mengenai skincare, sehingga penulis tidak mengexplore skincare lain. Penulis sendiri memiliki tipe kulit Normal to Dry dan Sensitive, pada saat itu penulis sudah merasa cukup dengan skincare dari klinik kecantikan, apalagi dengan hasil yang diperoleh, cukup menggembirakan. Dengan tipe kulit yang sensitif, penulis tidak berani untuk mencoba skincare lain, kurang lebih 9 tahun dari tahun 2012-2021 menggunakan skincare dari klinik kecantikan. Penulis sendiri awal menggunakan skincare saat kuliah yang saat itu berdomisili di Kota Surakarta (Solo), total sekitar 5 klinik kecantikan yang pernah penulis coba, mulai dari Natasha Skin Care, Ellena Skincare, Hayfa Skin Care, Dr. Milany Skincare dan yang terakhir Ella Skincare. Masing-masing klinik kecantikan memiliki keunggulannya, namun pengalaman penggunaan skincare terlama penulis yaitu di Ella Skincare sekitar 7 tahun.
Pada awal tahun 2016/2017 sudah mulai banyak bermunculan produk-produk skincare dari local brand, dan banyaknya Beauty Enthusiast yang mulai mereview dan membagikan informasi tips & trik mengenai dunia Skincare & Makeup. Akhirnya penulis mulai tertarik dengan informasi mengenai Skincare & Makeup yang membuat penulis memiliki pandangan baru dan ingin mencobanya. Akhirnya penulis memberanikan diri untuk berhenti menggunakan skincare dari klinik kecantikan. Pemberhentian pertama tidak berhasil, pemberhentian kedua tidak berhasil, pemberhentian ketiga tidak berhasil, selama itu pula siklusnya kembali lagi menggunakan skincare dari klinik kecantikan, karena terlalu takut untuk menerima kondisi kulit setelah berhenti pada saat itu. Namun, tekad penulis untuk berhenti kembali ada pada akhir tahun 2021, dengan informasi dan teknik yang menurut penulis bisa menjadi bekal menyelesaikan misi ini, hehe.
Penulis akan membagikan tips cara penulis berhenti pemakaian skincare dari klinik kecantikan, yaitu :
1. Membuat jadwal pemakaian krim pagi dan krim malam
“ Kenapa membuat jadwal pemakaian? ”
Dari pengalaman penulis pemberhentian 1-3 hasilnya sama yaitu kulit menjadi kusam, breakout, ruam kulit yang cenderung menjadi gatal. Hal tersebut yang membuat frustasi penulis pada saat itu, akhirnya penulis menerapkan jadwal pemakaian, dimana dengan teknik
a. Minggu pertama, pemakaian krim pagi di gunakan setiap hari tetapi pemakaian krim malam digunakan 2 hari sekali.
b. Minggu kedua, pemakaian krim pagi 2 hari sekali dan krim malam 3 hari sekali.
c. Minggu ketiga, pemakaian krim pagi 3 hari sekali dan krim malam 4 hari sekali.
d. Dan lakukan teknik pemakaian krim tersebut hingga krim habis.
Dengan melakukan hal tersebut, wajah tetap menerima nutrisi dari pemakaian krim secara berkala dan tidak berhenti secara mendadak, setelah penggunaan krim habis, penulis tidak memakai skincare apapun hanya menggunakan facial wash saja. Penulis membiarkan wajah beristirahat sekitar 1-2 minggu, walaupun kondisi muka pada saat itu tetap mengalami kusam, kering, ruam kemerahan dan gatal. Saat itu untuk mengatasi ruam wajah penulis hanya menggunakan lotion ruam popok bayi merk Konicare yaitu Konicare Baby Natural Cream Diaper Rash, jika ruam muncul penulis aplikasikan pada wajah yang terdapat ruamnya saja. Karena saat itu masih pandemic, sehingga ruam wajah tertutup oleh masker sehingga penulis masih bisa beraktivitas.
2. Memperbaiki Skin Barrier
“ Kenapa memperbaiki skin barrier? ”
Dikarenakan kondisi kulit perlu di beri nutrisi kembali, dengan cara apa?
Selepas penggunaan skincare dokter, kulit membutuhkan nutrisi kembali agar kulit yang kering dan kusam kembali sehat dan terhidrasi. Kunci dari memperbaiki Skin Barrier adalah dengan cara meminimalkan penggunakan produk skincare atau hanya menggunakan Basic Skincare saja seperti pelembab wajah, sunscreen dan facial wash. Selepas dari tips yang pertama, kemudian penulis mulai mencari alternatif produk skincare yang diperuntukan khusus untuk memperbaiki skin barrier. Ternyata produk untuk Skin Barrier dipasaran cukup banyak mulai dari local brand seperti Somethinc, Dear Me Beauty, Skintific, Glowlabs, dll. Namun, penulis akhirnya memberanikan diri untuk membeli produk Glowlabs yang Glowlabs Peptide Moist. Sebelum membeli teman-teman bisa mencari informasi atau melihat review terlebih dahulu, mengenai kandungan produk dan manfaatnya bisa cek di Skincarisma atau di Incidecoder ya teman-teman. Untuk Facial Wash sendiri teman-teman bisa mencari yang low pH dan yang bisa melembabkan kulit wajah, penulis sendiri menggunakan 2 Facial Wash yaitu dari Simple yang Simple Refreshing Facial Wash dan Hadalabo yang Hadalabo Gokujyun Ultimate Moisturizing Face Wash. Selama 1.5 bulan pemakaian kondisi kulit wajah sudah mulai membaik, kulit menjadi lebih moist, pori-pori mengecil, warna kulit sudah mulai merata dan garis-garis halus mulai samar. Tips juga teman-teman bisa membeli produk yang tidak ada kandungan paraben, alcohol, parfum, atau yang membuat kulit iritasi dan sensitif.
3. Pola Makan dan Pola Tidur
Untuk poin ketiga ini, bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, penulis sendiri mencoba untuk mengurangi makanan gorengan, cukup minum air putih, cukup makan buah + sayur dan tidur dibawah jam 10 malam.
Sekian pengalaman yang penulis bisa sampaikan dan bagikan, semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. Apabila kondisi kulit dirasa jauh lebih membaik, teman-teman bisa menggunakan rangkain skincare yang lainnya seperti penggunaan serum, toner, ampoule, sheet mask dan masker. Sekali lagi terimakasih teman-teman sudah bersedia untuk membaca, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam hal penyampaian dan penulisan J.
Bermanfaat
BalasHapus